Doa Setelah Wudhu

Doa Setelah Wudhu – Wudhu merupakan bagian penting yang wajib dilakukan sebelum shalat. Shalat seorang muslim tidak dikatakan sah apabila wudhunya tidak sah. Setelah selesai melakukan rukun wudhu, selanjutnya adalah membaca doa setelah wudhu. Doa ini tentu menjadi tambahan amalan yang menyempurnakan wudhu seperti yang ada dalam hadist berikut.

Membaca Doa Setelah Wudhu dan Anjurannya

doa setelah wudhu
bersamadakwah.net

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.”

Wudhu menjadi salah satu rangkaian ibadah yang tidak bisa dipisahkan dari shalat seorang muslim. Wudhu menjadi pembersih diri dari hadas kecil sebelum melaksanakan ibadah.

1. Niat Wudhu

Sebelum wudhu, ada bacaan niat wudhu yang berbunyi sebagai berikut.

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Bacaan latin doa sebelum wudhu:

“Nawaitul whudu-a lirof’il hadatsii ashghori fardhon lillaahi ta’aalaa”

Terjamahan atau arti doa sebelum wudhu:

“Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala”

2. Bacaan Doa Setelah Wudhu

Selesai melaksanakan semua rukun wudhu, selanjutnya membaca doa yang bunyinya sebagai berikut.

اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَاالتَّوَّابِيْنَ، وَجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ، وَجْعَلْنِىْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

Bacaan latin untuk doa sesudah wudhu:

“Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu . Wa asyhadu anna Muhammadan’abduhu wa rasuuluhu Allahumma-j alnii minattabinna waj alnii minal mutathohiirina waj alnii min ‘ibadatishalihin.”

Terjemahan atau arti doa sesudah wudhu:

“Saya bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah yang esa , tiada sekutu bagi-Nya . Dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya . Ya Allah jadikanlah saya orang yang ahli taubat , dan jadikanlah saya orang yang suci , dan jadikanlah saya dari golongan hamba-hamba Mu yang shaleh.”

Adapun tambahan doa setelah wudhu yang bunyinya sebagai berikut:

واجعلني من عبادك الصالحين من الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

Bacaan latin:

“Waj’alni min ‘ibaadika ash-shalihin minalladziina laa khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun
Terjemahan atau artinya: Jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang shalih, (yaitu) hamba-hamba-Mu yang tidak ada rasa takut dalam diri mereka dan tidak pula bersedih hati.”

Keterangan: maka tambahan doa dengan lafadz atau bacaan seperti di atas tidak ada riwayat atau asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tambahan doa tersebut tidak boleh diamalkan sebagai tambahan doa setelah wudhu.

Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah mengatakan,”Sebagian orang menambahkan, ‘Waj’alni min ‘ibaadika ash-shalihin‘. Tambahan ini tidak ada asalnya sebagaimana yang aku jelaskan dalam kitabku, ‘Silsilah Al-Ahaadits Allati Laa Ashla Laha’

Doa setelah wudhu lain yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah berwudhu diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من تَوَضَّأ فَقَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِك أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا أَنْت استغفرك وَأَتُوب إِلَيْك كتب فِي رق ثمَّ طبع بِطَابع فَلم يكسر إِلَى يَوْم الْقِيَامَة

“Barangsiapa yang berwudhu kemudian setelah berwudhu mengucapkan doa ,’Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika’ [Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu] maka akan ditulis di lembaran berwarna putih kemudian di-stempel dan tidak akan hancur sampai hari kiamat.”

Membaca doa setelah wudhu dapat menyempurnakan wudhu, tetapi wudhu tetap bisa batal oleh beberapa hal atau perkara seperti berikut.

  Tulisan Arab dan Arti dari Innalillahiwainnailaihirojiun yang Benar

1. Buang air kecil atau kencing

Sesuai perkara pembatal wudhu yang disepakati, buang air kecil setelah membaca doa setelah wudhu akan membatalkan wudhu sesuai hadis berikut.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Artinya: “Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. al-Bukhari no. 135)

2. Buang air besar

Sesuai dengan firman Allah dalam salah satu ayat berikut, buang air besar adalah salah satu perkara yang dapat membatalkan wudhu.

أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ

“Atau salah seorang dari kalian kembali dari buang air besar….” (al- Maidah: 6)

3. Kentut

Keluar angin dari dubur atau kentut juga menjadi salah satu hal yang membatalkan wudhu, seperti yang diriwayatkan dalam hadis berikut.

Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim al- Mazini radhiallahu ‘anhu berkata, “Diadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang menyangka dirinya kentut ketika ia sedang mengerjakan shalat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

Artinya: “Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar bunyi kentut (angin) tersebut atau mencium baunya.” (HR. al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Artinya: “Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. al-Bukhari no. 135)

4. Keluar madzi

Wudhu seseorang dapat batal karena keluar madzi, sesuai hadis yang bunyinya sebagai berikut:

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

Artinya: “Hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

5. Jima’

Sebuah hadis menjelaskan bahwa jima’ atau bersenggama dapat membatalkan wudhu seseorang.

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

Artinya: “Apabila seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (menggauli istrinya), maka sungguh telah wajib baginya untuk mandi (janabah).” (HR. al-Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Ada tambahan dalam riwayat Muslim

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

Artinya: “Sekalipun ia tidak keluar mani.”

Dari hadits di atas kita pahami bila jima‘ (senggama) sekalipun tidak sampai keluar mani menyebabkan seseorang harus mandi, sehingga jima‘ perkara yang membatalkan wudhu.

Selepas membaca doa setelah wudhu maka wudhunya seseorang sudah bisa dikatakan sempurna. Namun jika perkara pembatal wudhu di atas dilakukan, maka harus kembali wudhu mulai dari niat, rukun wudhu, dan membaca doa setelah wudhu.

Leave a Comment